Setiap orang punya kisah di masa lalu—kisah yang indah, yang pahit, dan yang kadang membuat kita sulit melangkah maju. Tidak ada proses yang lebih personal daripada belajar melepaskan sesuatu yang pernah begitu penting. Namun, cara move on dari masa lalu bukan hanya soal “melupakan”, tapi tentang menata ulang diri, memahami emosi, dan membangun harapan baru secara perlahan.
Dalam artikel ini, kita akan membahas cara move on dari masa lalu berdasarkan perspektif psikologi modern, lengkap dengan strategi konkret dan pendapat ahli agar kamu bisa melangkah lebih ringan.
1. Memahami bahwa Move On adalah Proses Emosional, Bukan Logika
Banyak orang merasa “seharusnya aku sudah bisa move on”, padahal emosi bekerja berbeda dari logika. Daniel Goleman, pakar kecerdasan emosional, menjelaskan bahwa otak emosional bergerak lebih cepat dan lebih intens daripada otak rasional. Itu sebabnya kamu bisa tahu hubungan itu toxic, tapi tetap sulit pergi.
Jadi, langkah awal dalam cara move on dari masa lalu adalah menerima bahwa ini proses yang wajar, tidak instan, dan tidak bisa dipaksa. Kamu bukan gagal—kamu hanya manusia.
2. Validasi Emosimu, Jangan Ditahan
Menurut penelitian dari Brene Brown (2010), menekan emosi justru membuat emosi negatif semakin kuat. Jika kamu sedih, kecewa, atau merasa kehilangan, beri ruang untuk merasakannya.
Kamu bisa mulai dengan:
- Menulis diary tentang apa yang kamu rasakan
- Curhat pada teman yang suportif
- Berbicara dengan konselor atau psikolog
Dalam proses cara move on dari masa lalu, validasi emosi membantu otak memproses luka secara lebih sehat.
3. Buat Batasan yang Jelas
Move on sulit jika kamu masih terhubung dengan sumber luka. Itu sebabnya no contact rule sering dianjurkan dalam psikologi relasi.
Batasan yang bisa kamu buat:
- Tidak melihat media sosialnya
- Tidak menyimpan foto, chat, atau barang-barang sentimental
- Tidak mencari alasan untuk menghubungi
Menurut studi dari University of Colorado (2015), mengurangi paparan terhadap mantan pasangan membantu otak mengurangi attachment dan mempercepat pemulihan emosional. Inilah salah satu cara move on dari masa lalu yang terbukti efektif secara neuropsikologis.
4. Tantang Pola Pikir Negatif
Kadang yang membuat kita sulit move on bukan memorinya, tapi interpretasinya. Misalnya:
- “Aku tidak akan menemukan yang lebih baik”
- “Semua ini salahku”
- “Aku gagal total”
Aaron Beck, bapak terapi kognitif, menjelaskan bahwa pikiran irasional seperti ini dapat memperpanjang luka psikologis. Coba tanya diri sendiri:
- Apa benar 100% pikiran ini?
- Apa bukti yang mendukungnya?
- Apa bukti yang bertentangan?
Mengubah pola pikir adalah bagian penting dari cara move on dari masa lalu karena membantu kamu melihat hidup dari perspektif yang lebih realistis.
10 Cara Mengasah Skill Problem Solving untuk Menghadapi Tantangan Hidup dan Karier
5. Fokus pada Rekonstruksi Diri
Move on bukan hanya meninggalkan sesuatu, tapi menciptakan sesuatu yang baru. Ini fase di mana kamu kembali bertanya pada diri sendiri:
“Aku ingin menjadi siapa setelah pengalaman ini?”
Beberapa aktivitas yang terbukti membantu:
- Belajar skill baru
- Mengikuti workshop atau kelas online
- Mengembangkan kebiasaan olahraga
- Menyusun ulang rutinitas harian
- Menetapkan tujuan jangka pendek
Dalam literatur psikologi positif, fase ini disebut self-rebuilding, yang menjadi fondasi kuat dalam cara move on dari masa lalu.
6. Kelilingi Diri dengan Orang yang Suportif
Lingkungan sosial sangat menentukan kemampuan seseorang untuk pulih. Studi oleh Umberson & Montez (2010) menunjukkan bahwa dukungan sosial mempercepat proses healing dan menjaga kesehatan mental.
Cobalah:
- Berkumpul dengan teman yang energinya positif
- Menghindari orang yang membuat luka lama terbuka
- Mencari komunitas baru yang selaras dengan minatmu
Move on bukan perjuangan sendirian. Kamu berhak mendapatkan ruang yang aman.
7. Temukan Makna dari Pengalaman
Menurut Viktor Frankl, manusia bisa bertahan dari pengalaman paling sulit ketika ia bisa menemukan makna di baliknya. Makna tidak harus sesuatu yang besar. Kamu bisa mulai dengan bertanya:
- Apa yang aku pelajari?
- Apa nilai baru yang aku temukan?
- Apa batasan yang harus aku jaga di masa depan?
Menemukan makna bukan untuk membenarkan kejadian buruk, tetapi untuk menumbuhkan kedewasaan baru dalam dirimu.
Makna adalah fondasi terakhir dalam cara move on dari masa lalu—sesuatu yang membuat kamu tidak hanya pulih, tetapi juga tumbuh.
10 Cara Menghadapi Kritik dan Memanfaatkannya untuk Perkembangan Diri
8. Izinkan Diri Membangun Harapan Baru
Move on terasa menakutkan karena hati masih memegang sesuatu yang lama. Tapi kamu berhak membuka halaman baru. Beberapa cara membangun harapan:
- Membuat visi tentang masa depan
- Menuliskan hal-hal yang ingin kamu capai
- Membayangkan relasi yang sehat dan positif
Penelitian dari Barbara Fredrickson tentang Broaden-and-Build Theory menunjukkan bahwa emosi positif, walau kecil, dapat memperluas cara kita melihat dunia dan membangun resiliensi jangka panjang.
Dan pada akhirnya, cara move on dari masa lalu bukan tentang melupakan, tetapi tentang memberi dirimu kesempatan untuk bahagia lagi.
Kesimpulan
Move on adalah perjalanan personal yang penuh pasang surut. Kamu mungkin butuh waktu, mungkin perlu menangis berkali-kali, mungkin harus mengulang langkah yang sama. Itu tidak apa-apa. Yang penting adalah kamu bergerak, pelan tapi pasti.
Jika kamu merasa kewalahan, ingatlah bahwa meminta bantuan profesional bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian untuk memulihkan diri. Kamu layak pulih, layak bahagia, dan layak menciptakan bab baru dalam hidupmu.
Foto Thumbnail: Freepik.com
Daftar Referensi
- Beck, A. (1976). Cognitive Therapy and the Emotional Disorders. International Universities Press.
- Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection. Hazelden Publishing.
- Duckworth, A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. Scribner.
- Fredrickson, B. (2001). “The Role of Positive Emotions in Positive Psychology.” American Psychologist.
- Frankl, V. (1959). Man’s Search for Meaning. Beacon Press.
- Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. Bantam Books.
- LeFebvre, L., et al. (2015). “No Contact Rule and Relational Recovery.” University of Colorado Research Journal.
- Umberson, D., & Montez, J. (2010). “Social Relationships and Health.” Journal of Health and Social Behavior.