Posted in

Cara Berkomunikasi Asertif: Agar Suaramu Didengar Tanpa Menyakiti Orang Lain

cara berkomunikasi asertif
cara berkomunikasi asertif

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada situasi yang mengharuskan kita menyampaikan pendapat, menolak permintaan, mengungkapkan kebutuhan, atau sekadar menegaskan batasan diri. Namun, tidak semua orang merasa nyaman melakukannya. Ada yang terlalu agresif, ada pula yang terlalu pasif. Lalu, di tengah dua ekstrem itu, ada satu keterampilan penting yang sering kali justru menjadi kunci komunikasi sehat: cara berkomunikasi asertif.

Jika kamu pernah merasa “serba salah” saat ingin menyampaikan sesuatu—takut menyakiti hati orang lain, takut disalahpahami, atau takut dianggap tidak sopan—artikel ini dibuat khusus untukmu. Mari kita bahas cara berkomunikasi asertif secara menyeluruh dan mudah dipraktikkan.


Apa Itu Komunikasi Asertif?

Sebelum masuk ke tekniknya, mari kita samakan persepsi dulu. Komunikasi asertif adalah kemampuan untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jujur dan langsung, namun tetap menghormati hak orang lain.

Menurut Alberti & Emmons (2017), asertivitas berarti menyampaikan apa yang kamu inginkan tanpa rasa bersalah, namun juga tanpa melanggar batasan yang dimiliki orang lain. Jadi, ini bukan bicara keras-keras, bukan memaksa, bukan pula mengalah terus. Asertif adalah tentang keseimbangan.


Kenapa Komunikasi Asertif itu Penting?

Coba bayangkan: kalau kamu terus menahan diri, kamu rentan stres, lelah mental, bahkan bisa memicu konflik pasif-agresif.

Sebaliknya, jika kamu terlalu agresif, kamu bisa terlihat mendominasi, kurang peka, atau bahkan menimbulkan resistensi dari orang lain. Komunikasi asertif memberikanmu:

  • Rasa percaya diri dalam relasi sosial,
  • Kemampuan menyampaikan kebutuhan tanpa drama,
  • Hubungan yang lebih sehat, dan
  • Pengambilan keputusan yang lebih baik.

Penelitian bahkan menunjukkan bahwa asertivitas berkaitan dengan kesejahteraan emosional dan kepuasan hidup (Ames, 2009).


Cara Berkomunikasi Asertif

Sekarang kita masuk ke bagian yang paling penting dan praktis. Di sini, kamu akan belajar langkah demi langkah bagaimana menerapkan komunikasi asertif dalam kehidupan sehari-hari.

1. Kenali Perasaan dan Kebutuhanmu Sendiri

Asertivitas berawal dari kesadaran diri. Kamu perlu tahu dulu apa yang sebenarnya kamu rasakan dan butuhkan, misalnya:

  • Apakah kamu merasa keberatan?
  • Apakah kamu butuh waktu sendiri?
  • Apakah kamu tidak setuju dengan sebuah keputusan?

Penelitian dari Linehan (2015) menjelaskan bahwa kesadaran emosi adalah pondasi dalam keterampilan interpersonal. Contoh sederhananya: “Aku sebenarnya butuh waktu istirahat, tapi aku takut dibilang nggak mau bantu.” Nah, di sini kamu sudah tahu kebutuhanmu: istirahat.

2. Gunakan Pola Kalimat “Saya…” (I-Statement)

Teknik ini sangat efektif dalam komunikasi interpersonal. Daripada menyalahkan atau menggurui, kamu cukup menyampaikan apa yang kamu rasakan dan butuhkan.

Formula sederhana: “Saya merasa… ketika … karena … dan saya berharap …”

Contoh:

“Saya merasa kewalahan ketika tugas terus ditambah, karena jadwal saya sudah penuh. Saya berharap kita bisa atur ulang prioritasnya.”

Teknik ini direkomendasikan dalam terapi perilaku kognitif karena mengurangi konflik (Beck, 2011).

3. Sampaikan dengan Tenang dan Jelas

Nada suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh adalah bagian besar dari komunikasi. Tidak perlu berkata keras atau terburu-buru—cukup stabil dan konsisten. Ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan:

  • Jaga kontak mata (tidak melotot, tidak menghindar)
  • Bicaralah dengan kecepatan normal
  • Hindari mengerutkan kening atau menghela nafas berat

Menurut studi oleh Burgoon (2016), bahasa tubuh yang stabil meningkatkan kredibilitas dalam komunikasi interpersonal.

Baca Juga: Cara Mengembangkan Growth Mindset

4. Tetapkan Batasan (Setting Boundaries)

Banyak orang merasa tidak enak menolak permintaan. Padahal, menolak secara sopan adalah bagian penting dari asertivitas, misalnya:

  • “Terima kasih sudah mengajak, tapi aku tidak bisa ikut kali ini.”
  • “Aku tidak nyaman membahas hal itu. Kita bisa bicara hal lain saja.”

Ingat, menolak bukan berarti kamu salah. Kamu hanya menjaga diri.

5. Latih Kemampuan Mendengarkan Aktif

Asertif bukan hanya tentang bicara, tapi juga mendengarkan. Supaya komunikasi dua arah berjalan adil, kamu perlu memahami sudut pandang orang lain, caranya:

  • Dengarkan sampai selesai
  • Parafrase apa yang mereka sampaikan
  • Tunjukkan empati

Misalnya:
“Jadi kamu merasa tertekan karena deadline itu terlalu mepet, ya?”

Peneliti seperti Rogers (1957) menyatakan bahwa empati dan mendengarkan merupakan inti dari hubungan interpersonal yang sehat.

6. Hindari Membuat Asumsi

Komunikasi asertif mendorongmu untuk bertanya jika kamu tidak yakin. Daripada menebak perasaan orang lain atau mengira-ngira maksudnya, lebih baik klarifikasi:

  • “Maksud kamu seperti apa, ya?”
  • “Apakah benar kamu merasa tidak nyaman dengan keputusan itu?”

Ini mencegah kesalahpahaman yang tidak perlu.

7. Latihan dengan Kalimat Sederhana Sehari-hari

Asertivitas adalah keterampilan. Semakin sering dilatih, semakin natural jadinya. Coba gunakan kalimat seperti:

  • “Saya butuh waktu sebentar untuk berpikir.”
  • “Saya ingin menyampaikan pendapat saya.”
  • “Saya kurang setuju, boleh saya jelaskan alasannya?”

Ambil contoh kecil seperti memesan makanan yang salah di restoran—itu momen tepat untuk latihan.

8. Evaluasi Diri dan Perbaiki dari Waktu ke Waktu

Sesudah kamu mencoba berkomunikasi asertif, evaluasi hasilnya:

  • Apakah kamu sudah jujur pada diri sendiri?
  • Apakah kamu masih terdengar pasif?
  • Atau malah cenderung terlalu agresif?

Ini penting agar kamu bisa belajar dan menyesuaikan gaya komunikasi.

Cara Meningkatkan Keterampilan Komunikasi agar Lebih Percaya Diri


Contoh Penerapan Komunikasi Asertif dalam Kehidupan Sehari-Hari

1. Situasi di Tempat Kerja

Rekan kerja selalu meminta bantuan tugas, padahal jadwalmu penuh. Kamu bisa bilang:

“Aku senang bisa membantu, tapi untuk sekarang tugasku cukup penuh. Aku tidak bisa bantu hari ini.”

Tenang, jelas, jujur. Tidak perlu marah, tidak perlu menghindar.

2. Situasi dalam Hubungan Personal

Pasanganmu sering terlambat dan kamu merasa terganggu.

“Aku merasa nggak dihargai ketika kamu sering datang terlambat, karena itu membuat rencana kita berantakan. Aku harap kita bisa lebih tepat waktu.”

Perasaan tersampaikan, hubungan tetap sehat.

3. Situasi Keluarga

Orang tua meminta sesuatu yang di luar kemampuanmu.

“Aku ingin membantu, tapi saat ini aku belum bisa memenuhi permintaan itu. Kita bisa cari solusi lain bersama.”

Ini bentuk asertif yang tetap hormat.


Komunikasi Asertif Adalah Investasi Hubungan Seumur Hidup

Belajar berkomunikasi asertif bukan hanya soal menyampaikan pendapat. Ini adalah keterampilan hidup yang membantumu membangun relasi yang lebih sehat, lebih jujur, dan lebih seimbang. Prosesnya memang tidak instan, tapi sekali kamu mulai membiasakannya, kamu akan merasa lebih bebas, lebih dihargai, dan lebih percaya pada diri sendiri.

Kamu tidak perlu menjadi orang yang keras. Kamu cukup menjadi orang yang jelas — dan itu sudah lebih dari cukup.

FotoThumbnail: Freepik.com

Daftar Referensi

  • Ames, D. R. (2009). Assertiveness Expectancies: How Hard People Push Depends on the Consequences They Predict. Journal of Personality and Social Psychology.
  • Alberti, R., & Emmons, M. (2017). Your Perfect Right: Assertiveness and Equality in Your Life and Relationships. Impact Publishers.
  • Beck, J. S. (2011). Cognitive Behavior Therapy: Basics and Beyond. Guilford Press.
  • Burgoon, J. K., Guerrero, L. K., & Floyd, K. (2016). Nonverbal Communication. Routledge.
  • Linehan, M. M. (2015). DBT® Skills Training Manual. Guilford Press.
  • Rogers, C. (1957). The Necessary and Sufficient Conditions of Therapeutic Personality Change. Journal of Consulting Psychology.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *