Kamu mungkin pernah denger istilah self esteem, self confidence, dan self love? Sekilas terdengar mirip, tapi sebenarnya bedanya self esteem, self confidence, dan self love sangatlah kontras.
Nah, artikel ini akan membahas secara terstruktur apa itu masing-masing konsep, apa persamaan dan perbedaannya, lalu bagaimana kamu bisa mengembangkan ketiganya supaya hidupmu lebih seimbang dan bermakna.
Apa Itu Self Esteem?
Istilah “self esteem” atau harga diri secara umum merujuk pada bagaimana kamu menilai dirimu sendiri, seberapa besar kamu merasa layak, berharga, dihargai, dan memiliki hak untuk bahagia, sukses, dan dicintai.
Sebuah kajian menyebut bahwa self-esteem adalah fungsi evaluatif dari konsep diri (self-concept) yang mencakup dua komponen: self-efficacy (kemampuan/kesiapan menghadapi tantangan) dan self-respect (keyakinan bahwa kamu berhak memperoleh kebahagiaan, cinta, kesuksesan).
Contoh sederhananya adalah ketika kamu berpikir “Saya berharga sebagai manusia”, atau “Saya layak mendapat kebaikan” itulah self-esteem. Jika sebaliknya kamu merasa “Saya nggak penting”, “Saya tak layak mendapat cinta”, maka itu tanda self-esteemmu sedang rendah.
Apa Itu Self Confidence?
Sementara itu, self confidence (kepercayaan diri) lebih spesifik adalah tentang percaya akan kemampuanmu melakukan sesuatu, menghadapi situasi atau tantangan tertentu. Dengan kata lain, self confidence adalah “Saya bisa melakukan ini” atau “Saya tahu saya punya kompetensi untuk itu”.
Misalnya, kamu mungkin sangat percaya diri berbicara di depan kelas karena sudah sering melakukannya dan itu memberi kamu rasa self confidence di situasi tersebut. Namun, kamu mungkin tetap merasa kurang layak secara umum, yang terkait dengan self esteem.
Menurut Ousia Counselling & Psychotherapy disebutkan bahwa walaupun kedua konsep saling terkait, tetap berbeda. Self esteem adalah tentang percaya siapa dirimu, sedangkan self confidence adalah tentang mempercayai kemampuan dirimu.
Apa Itu Self Love?
Kemudian ada self love atau mencintai diri sendiri. Ini bukan sekadar merasa bagus atau bisa, melainkan tentang menerima, menghargai, dan merawat diri sendiri secara menyeluruh, termasuk kelebihan dan kekuranganmu.
Self love ini mencakup tindakan konkrit seperti merawat tubuh, menetapkan batas yang sehat, mengizinkan diri kamu istirahat atau bersalah tanpa merasa hina, sebagaimana definisi menyebut.
Jadi ketika kamu berkata “Saya cukup baik untuk menjaga diri saya sendiri”, atau “Saya menerima bagian buruk saya dan tetap mencintai diri sendiri”—itulah self-love. Ini adalah level yang agak “lebih dalam” daripada sekadar percaya diri atau merasa layak.
Bedanya Self Esteem, Self Confidence, dan Self Love
Nah, sekarang mari kita rangkum perbedaan utama agar semakin jelas.
| Konsep | Fokus Utama | Contoh Nyata |
|---|---|---|
| Self Esteem | Nilai/layak diri secara keseluruhan (“Saya layak”) | Merasa “Saya punya hak bahagia”, “Saya dihargai sebagai manusia”. |
| Self Confidence | Keyakinan terhadap kemampuan spesifik (“Saya bisa”) | Yakin bisa presentasi, yakin bisa menyelesaikan proyek, percaya diri di situasi tertentu. |
| Self Love | Penerimaan dan perawatan diri secara menyeluruh | Memberi diri istirahat, menetapkan batasan, berbicara baik dengan diri sendiri, menerima kekurangan. |
Beberapa poin penting:
- Kamu bisa punya self confidence tinggi di bidang tertentu (misalnya kamu pandai main musik), tapi self esteem bisa tetap rendah jika kamu merasa “saya tak layak” secara umum.
- Memiliki self esteem yang baik bisa mendukung munculnya self confidence, tapi memiliki self esteem belum tentu berarti kamu otomatis punya self love yang baik—karena cinta diri sendiri melibatkan tindakan dan penerimaan yang lebih mendalam.
- Self love sering dianggap sebagai “fondasi” atau “lapisan terdalam” dalam tiga konsep ini, karena ketika kamu menerima dan mencintai diri sendiri, maka self esteem dan self confidence cenderung tumbuh lebih stabil.
Baca Juga: Tanda Kamu Punya Self-Esteem Rendah dan Cara Mengatasinya
Kenapa Memahami Perbedaan Itu Penting?
Mengapa kamu harus tahu bedanya self esteem, self confidence, dan self love? Karena dengan tahu letak “masalah” atau bidang yang perlu diperkuat, kamu bisa mengambil langkah yang tepat.
Ketika kamu merasa kurang: apakah kamu merasa tak layak (self esteem rendah)? Atau kamu merasa tak mampu di situasi tertentu (self confidence rendah)? Atau kamu merasa sulit menerima diri dan merawat diri sendiri (butuh self love)? Dengan mengetahui ini, strategi yang kamu ambil bisa tepat sasaran.
Misalnya, jika kamu sudah sering berhasil tapi tetap merasa “saya tak layak”, maka fokusmu bukan hanya meningkatkan skill (yang akan memperkuat self confidence) tapi memperkuat self esteem dan self love. Sebaliknya, jika kamu merasa cukup baik tapi takut mencoba hal baru karena “saya nggak bisa”, maka kamu fokus pada self confidence.
Bagaimana Mengembangkan Masing-Masing?
Mungkin setelah membaca penjelasan di atas, kamu bisa mengidentifikasi bagian mana yang perlu kamu kembangkan. Berikut adalah beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk mengembangkan masing-masing elemen tersebut.
1. Mengembangkan Self Esteem
- Mulailah dengan menilai ulang nilai dirimu: buat daftar tiga hal yang kamu lakukan dengan baik hari ini—meskipun kecil.
- Latih dialog internal positif: saat kamu berkata “Saya tak layak”, gantikan dengan “Saya layak untuk mendapat kebaikan dan kesempatan”.
- Sadari bahwa self esteem bukan hanya tentang prestasi, tapi tentang merasa layak secara dasar sebagai manusia.
2. Mengembangkan Self Confidence
- Pilih satu area yang ingin kamu tingkatkan (misalnya berbicara depan umum, atau skill tehnis).
- Buat rencana kecil: latihan, persiapan, pengalaman bertahap. Confidence tumbuh lewat pengalaman konkret.
- Rayakan keberhasilan kecil: setiap kali kamu berhasil melewati tantangan, itu memperkuat kepercayaan diri.
3. Mengembangkan Self Love
- Buat rutinitas perawatan diri: cukup tidur, makan yang baik, waktu istirahat.
- Tetapkan batasan yang sehat dalam relasi: belajar mengatakan “tidak” ketika perlu.
- Latih penerimaan diri: terima bagian yang kurang bagus dalam dirimu, dan ingat bahwa setiap orang punya kekurangan.
- Praktikkan berbicara baik dengan diri sendiri: jika kamu teman baikmu, bagaimana kamu akan menghibur dia? Lakukan itu untuk dirimu sendiri.
Baca Juga: Bagaimana Cara Menjadi Lebih Baik? Inilah 10 Tips Melakukannya
Hubungan Antara Ketiganya
Ketiga konsep ini saling berkaitan dan saling memperkuat. Misalnya:
- Self love yang kuat membuat self esteem menjadi lebih kokoh karena kamu merasa layak dan berharga secara internal.
- Self esteem yang positif membuat kamu lebih berani mengambil tantangan, yang pada gilirannya memperkuat self confidence.
- Self confidence yang tumbuh membantu kamu berprestasi, yang kemudian memperkuat self esteem—sebuah siklus positif.
Namun demikian, mereka tidak otomatis muncul bersama. Kamu bisa mempunyai kepercayaan diri tinggi di satu bidang tetapi merasa tak layak di bidang lain. Kamu bisa mencintai diri secara umum tetapi masih takut gagal atau belum cukup mengasah kemampuan. Karena itu, penting untuk mengecek kondisi diri secara keseluruhan.
Kesimpulan
Jadi, ketika kita membahas “bedanya self esteem, self confidence, dan self love”, maka intinya:
- Self esteem = seberapa besar kamu merasa berharga dan layak.
- Self confidence = seberapa besar kamu yakin terhadap kemampuanmu di situasi-tertentu.
- Self love = bagaimana kamu merawat, menerima, dan menghargai dirimu sendiri secara menyeluruh.
Ketiga hal ini bukan sekadar “cosmetic” psikologis — mereka memengaruhi bagaimana kamu bertindak, bagaimana kamu memilih relasi, bagaimana kamu merespons kegagalan, dan bagaimana kamu memberi kesempatan pada diri sendiri untuk tumbuh.
Dengan memahami perbedaan dan mulai mengembangkan masing-masing, kamu bisa membangun diri yang lebih utuh: bukan hanya mampu, tetapi juga merasa layak dan mencintai diri sendiri.
Foto Thumbnail: Freepik.com
Referensi:
- Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: W.H. Freeman.
- Branden, N. (1994). The Six Pillars of Self-Esteem. New York: Bantam Books.
- Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection: Let Go of Who You Think You’re Supposed to Be and Embrace Who You Are. Minnesota: Hazelden.
- Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “What” and “Why” of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.
- Hewitt, J. P. (2009). Oxford Handbook of Positive Psychology. Oxford: Oxford University Press.
- Neff, K. D. (2003). Self-Compassion: An Alternative Conceptualization of a Healthy Attitude Toward Oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101.
- Neff, K. D., & Germer, C. K. (2017). The Mindful Self-Compassion Workbook. New York: Guilford Press.
- Orth, U., & Robins, R. W. (2014). The Development of Self-Esteem. Current Directions in Psychological Science, 23(5), 381–387.
- Rosenberg, M. (1965). Society and the Adolescent Self-Image. Princeton, NJ: Princeton University Press.
- Tafarodi, R. W., & Swann, W. B. (2001). Two-Dimensional Self-Esteem: Theory and Measurement. Personality and Individual Differences, 31(5), 653–673.