Dalam dunia yang serba cepat seperti sekarang, banyak orang lebih fokus untuk didengar ketimbang mendengarkan. Kita sibuk menyiapkan jawaban, menyela percakapan, atau memikirkan hal lain ketika seseorang sedang berbicara. Padahal, inti dari komunikasi yang efektif bukan hanya berbicara dengan jelas, tetapi juga mendengarkan dengan penuh perhatian.
Inilah yang disebut dengan kemampuan mendengarkan aktif, kemampuan untuk benar-benar memahami pesan yang disampaikan oleh lawan bicara, baik secara verbal maupun nonverbal. Dan agar komunikasi kita menjadi lebih empatik, tulus, dan efektif, penting bagi kita untuk memahami cara melatih kemampuan mendengarkan aktif.
Mengapa Kemampuan Mendengarkan Aktif Itu Penting?
Sebelum membahas cara melatih kemampuan mendengarkan aktif, mari kita pahami dulu mengapa keterampilan ini begitu krusial.
Menurut Carl R. Rogers dan Richard E. Farson dalam karya klasik mereka Active Listening (1957), mendengarkan aktif berarti memberi perhatian penuh kepada pembicara, mencoba memahami maknanya, dan merespons dengan empati. Ini bukan hanya mendengar suara, tetapi memahami makna di balik kata-kata.
Riset juga menunjukkan bahwa kemampuan ini meningkatkan kualitas hubungan interpersonal, mengurangi konflik, dan membangun rasa saling percaya. Dalam dunia kerja, mendengarkan aktif membuat komunikasi tim lebih efisien dan mengurangi kesalahpahaman.
Sayangnya, kebanyakan orang hanya “mendengar” tanpa benar-benar “memahami.” Itulah sebabnya penting untuk melatih kemampuan ini secara sadar.
1. Hadir Sepenuhnya Saat Berbicara dengan Orang Lain
Langkah pertama dalam cara melatih kemampuan mendengarkan aktif adalah being fully present atau hadir sepenuhnya. Artinya, saat seseorang berbicara, kita menyingkirkan distraksi: tidak melihat ponsel, tidak memikirkan pekerjaan lain, dan tidak menebak-nebak apa yang akan dikatakan.
Psikolog Daniel Goleman dalam Focus: The Hidden Driver of Excellence (2013) menjelaskan bahwa fokus adalah kunci empati. Ketika kamu benar-benar hadir, pembicara akan merasa dihargai dan aman untuk terbuka.
Cobalah mulai dengan menatap lawan bicara, memberi anggukan kecil, dan menunjukkan bahasa tubuh yang mendukung. Hal sederhana seperti ini bisa memberi pesan: “Aku mendengarkanmu.”
2. Jangan Potong Pembicaraan
Salah satu kebiasaan yang sering tanpa sadar kita lakukan adalah menyela percakapan. Padahal, ini bisa membuat lawan bicara merasa tidak dihargai.
Dalam cara melatih kemampuan mendengarkan aktif, penting untuk memberi ruang agar pembicara menuntaskan kalimatnya. Biarkan jeda, meski hanya beberapa detik, sebelum kamu menanggapi.
Menurut penelitian dari University of Minnesota (2018), jeda sekitar 1–2 detik sebelum merespons memberi waktu bagi otak untuk memproses informasi dengan lebih baik. Ini juga memberi sinyal bahwa kamu benar-benar memperhatikan, bukan sekadar menunggu giliran bicara.
3. Tunjukkan Empati Melalui Bahasa Tubuh
Empati adalah inti dari mendengarkan aktif. Saat seseorang curhat atau bercerita, terkadang yang mereka butuhkan bukan solusi, tapi rasa dimengerti.
Dalam cara melatih kemampuan mendengarkan aktif, gunakan ekspresi wajah dan gerak tubuh yang menandakan perhatian. Contohnya:
- Menatap dengan lembut tanpa menatap tajam.
- Mengangguk perlahan ketika setuju.
- Mencondongkan sedikit tubuh ke arah pembicara untuk menunjukkan minat.
Menurut Mehrabian’s Communication Model (1971), hanya 7% komunikasi berasal dari kata-kata, sementara 55% ditentukan oleh bahasa tubuh. Artinya, empati yang tampak secara nonverbal bisa lebih bermakna daripada kata-kata itu sendiri.
4. Parafrase dan Ulangi Inti Pesan Pembicara
Salah satu teknik paling efektif dalam cara melatih kemampuan mendengarkan aktif adalah paraphrasing, yakni mengulangi kembali pesan utama dengan kata-kata kita sendiri. Misalnya:
Pembicara: “Aku merasa lelah karena harus mengerjakan proyek ini sendirian.”
Kamu: “Kamu merasa kewalahan karena tanggung jawabnya banyak, ya?”
Dengan cara ini, pembicara tahu bahwa kamu benar-benar mendengarkan dan memahami perasaannya. Menurut Rogers (1957), teknik ini membantu membangun emotional trust dan memperkuat koneksi interpersonal.
Cara Mengatasi Gugup di Depan Umum: Rahasia Tampil Percaya Diri di Hadapan Banyak Orang
5. Tahan Diri dari Memberi Solusi Terlalu Cepat
Banyak orang berpikir mendengarkan berarti membantu menyelesaikan masalah. Padahal, tidak semua orang ingin “diselesaikan.”
Dalam konteks cara melatih kemampuan mendengarkan aktif, fokuslah untuk memahami dulu, baru menanggapi. Kadang, seseorang hanya ingin didengar, bukan dihakimi atau dikoreksi.
Seperti kata penulis Brené Brown dalam bukunya Dare to Lead (2018):
“Empati bukan tentang memperbaiki sesuatu, tapi tentang terhubung dengan perasaan orang lain.”
Cobalah untuk menanyakan:
“Kamu ingin aku bantu cari solusi, atau kamu hanya ingin didengarkan dulu?”
Kalimat sederhana ini menunjukkan empati sekaligus menghormati kebutuhan emosional lawan bicara.
6. Gunakan Pertanyaan Terbuka
Kemampuan bertanya adalah bagian penting dari cara melatih kemampuan mendengarkan aktif. Pertanyaan terbuka (open-ended questions) mendorong pembicara untuk mengungkapkan lebih banyak.
Contohnya:
- “Bagaimana perasaanmu tentang hal itu?”
- “Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”
- “Bisa ceritakan lebih detail tentang situasinya?”
Menurut Adler, Rosenfeld, & Proctor (2018) dalam Interplay: The Process of Interpersonal Communication, pertanyaan terbuka memperdalam pemahaman dan membantu membangun hubungan yang lebih hangat antara dua pihak.
7. Pahami Bahasa Tubuh dan Nada Suara
Dalam cara melatih kemampuan mendengarkan aktif, kita juga perlu memahami pesan nonverbal. Kadang, makna sebenarnya justru muncul dari intonasi, ekspresi wajah, atau gerak tubuh.
Misalnya, seseorang mungkin berkata “Aku baik-baik saja” dengan nada datar dan bahu menurun. Dari bahasa tubuh itu, kita tahu bahwa sebenarnya ia sedang tidak baik-baik saja.
Psikolog Albert Mehrabian menjelaskan bahwa emosi sering lebih jujur disampaikan melalui nada dan gestur ketimbang kata-kata. Jadi, dengarkan dengan mata dan hati, bukan hanya telinga.
8. Beri Umpan Balik dengan Lembut dan Relevan
Dalam cara melatih kemampuan mendengarkan aktif, memberi umpan balik (feedback) juga penting — tapi harus dilakukan dengan hati-hati. Hindari menilai atau mengkritik secara langsung.
Gunakan pendekatan reflektif, seperti:
- “Aku bisa memahami kenapa kamu merasa seperti itu.”
- “Kedengarannya situasi itu cukup sulit buat kamu.”
Penelitian oleh Harvard Business Review (2020) menemukan bahwa umpan balik yang empatik meningkatkan kepercayaan interpersonal hingga 40%. Jadi, gunakan kata-kata yang membangun, bukan yang membuat defensif.
Baca Juga: Latihan Harian Membangun Harga Diri yang Sehat Agar Semakin Percaya Diri
9. Sadari Bias dan Asumsi Pribadi
Kita semua punya bias — prasangka atau keyakinan tertentu yang bisa memengaruhi cara kita mendengarkan. Misalnya, kita cenderung lebih memperhatikan orang yang sependapat, atau mengabaikan yang berbeda pandangan.
Padahal, salah satu inti dari cara melatih kemampuan mendengarkan aktif adalah menunda penilaian. Menurut Stephen Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People (1989), mendengarkan dengan empati berarti “mendengar untuk memahami, bukan untuk menjawab.”
Cobalah sadari setiap kali kamu mulai menghakimi atau membandingkan pengalaman orang lain. Gantilah dengan rasa ingin tahu: “Apa yang bisa aku pelajari dari perspektifnya?”
10. Latih Konsistensi dan Kesabaran
Kemampuan mendengarkan aktif tidak bisa dibangun dalam semalam. Butuh latihan terus-menerus agar menjadi kebiasaan alami.
Mulailah dengan latihan kecil setiap hari:
- Fokus saat berbicara dengan teman atau keluarga.
- Beri perhatian penuh selama 5–10 menit tanpa memegang gawai.
- Setelah percakapan, evaluasi: apakah kamu benar-benar mendengarkan?
Semakin sering kamu melatihnya, semakin peka kamu terhadap perasaan dan makna di balik setiap percakapan.
Riset oleh Brownell (2012) dalam Listening: Attitudes, Principles, and Skills menunjukkan bahwa latihan mendengarkan aktif secara rutin dapat meningkatkan efektivitas komunikasi hingga 30%.
Kesimpulan
Mendengarkan aktif adalah seni sekaligus keterampilan. Ia bukan sekadar proses pasif menerima kata-kata, melainkan tindakan sadar untuk memahami, merasakan, dan menghargai apa yang disampaikan orang lain.
Melalui cara melatih kemampuan mendengarkan aktif, kamu bukan hanya meningkatkan komunikasi, tapi juga membangun hubungan yang lebih kuat, menumbuhkan empati, dan menciptakan lingkungan sosial yang lebih hangat.
Jadi, mulai sekarang saat seseorang berbicara padamu, biarkan dunia berhenti sejenak. Lihat matanya, dengarkan dengan hati, dan hadir sepenuhnya. Karena terkadang, mendengarkan dengan tulus bisa lebih menyembuhkan daripada seribu nasihat.
Foto Thumbnail: Freepik.com
Daftar Referensi
- Adler, R. B., Rosenfeld, L. B., & Proctor, R. F. (2018). Interplay: The Process of Interpersonal Communication. Oxford University Press.
- Brownell, J. (2012). Listening: Attitudes, Principles, and Skills. Pearson Education.
- Covey, S. R. (1989). The 7 Habits of Highly Effective People. Free Press.
- Goleman, D. (2013). Focus: The Hidden Driver of Excellence. HarperCollins.
- Harvard Business Review. (2020). The Power of Listening in Leadership. HBR Press.
- Mehrabian, A. (1971). Silent Messages: Implicit Communication of Emotions and Attitudes. Wadsworth.
- Rogers, C. R., & Farson, R. E. (1957). Active Listening. Industrial Relations Center, University of Chicago.
- University of Minnesota. (2018). Listening Effectiveness Study. Department of Communication Research.
- Brown, B. (2018). Dare to Lead: Brave Work. Tough Conversations. Whole Hearts. Random House.